UPG 45 NTT Siap Mewisuda 599 Calon Sarjana

beritadelapanenam-Kota Kupang, Pengembalian toga harus menunjukan bukti kwitansi oleh calon sarjana guna pengembangan program study pada minggu kedua. Karena dalam minggu ketiga sekitar tanggal 25 sampai dengan 27 September 2018 akan diadakan gladi guna mengecek nomer urut seri tempat duduk, 599 orang calon sarjana yang siap diwisudahkan pada tanggal 29 September 2018.

“Masih ada administrasi gelombang dua yang belum diselesaikan. Jadi kita masih ada dua orang yang secara administrasi  belum lengkap sehingga mungkin bisa saja bertambah menjadi 601 atau 602 orang”, demikian disampaikan, Ony Selan, S.Pd, M. Fis, Pembantu Dekan III FKIP, sekaligus Ketua Panitia Persiapan Wisuda UPG 45 NTT Tahun 2018 kepada wartawan di ruangan Rektor.

Menurut Ony Selan, selain administrasi, secara fisik pihaknya juga saling berkoordinasi dan telah mempersiapkan lokasi wisuda di Aula Eltari Belakang Kantor Gubernur NTT.

“Segala perlengkaan di sana menjadi tanggungjawab seksi perlengkapan yang diketuai oleh salah seorang pegawai UPG 45 NTT, Remon Manurihi. Jadi sound systim, kursi dan dekorasi itu tugas perlengkapan. Sedangkan untuk seksi gladi dan prosesi wisuda diketuai oleh ibu Delorens L. Naomi Bessie”, terang Pembantu Dekan FKIP itu.

Diakui Selan, pada tanggal 29 September 2018, akan dilakukan gladi terakhir maka para calon sarjana diharapkan datang lebih awal.

“Tidak ada tawar-menawar bagi mereka sebab ini momentum mereka sendiri. Sukses atau tidaknya kegiatan wisuda ini ada pada mereka juga’, tegas Ony Selan, sosok elegan dan santun ini.

Ony berharap, informasi melalui media online ini dapat diketahui oleh calon sarjana yang belum mengetahui informasi ini agar tidak terlambat pada saat kegiatan mulai, jelas dia.

Selanjutnya, sesuai adat dan kebiasaan yang berlaku dalam tatanan budaya NTT, dituturkan Ony, dalam wisuda perdana UPG 45 NTT kali ini akan menghadirkan tua-tua adat yang terpilih secara khusus untuk melakukan Natony terlebih dahulu sebelum memasuki acara wisuda.

“Ini sangat sakral maka kita harus cari orang yang memang benar–benar memiliki kemapuan tersebut. Karena adat kita orang Timor sehingga kita harus lakukan”, aku Selan. *jh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *