Diduga JK dan P Mengancam Kepsek SMPN 3 Kota Kupang, Gara-Gara Pekerjaan DAK 2018

beritadelapanenam, -Kota Kupang, –Gara-gara tidak diberikan pekerjaan DAK Tahun 2018, berupa pembangunan 4 ruang belajar dengan dana sebesar dua ratus juta lebih, JK dan P warga Kelurahan Airnona Kota Kupang, diduga melakukan pengancaman pembunuhan terhadap Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Kota Kupang, Drs Soleman Mone, Jumat, (11/08).

JK dan P pun dalam aksi terornya mengaku sebagai tim sukses dari pemerintahan saat ini, yakni Walikota dan Wakil Walikota Kupang, Jefri Riwu Kore dan Herman Man. Lebih dari itu, JK dan P, juga menyebut-nyebut Jaksa Pidana Khusus dan Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kota Kupang.

“Dua hari sebelum kejadian, JK dan P datang dan saya jelaskan tentang juknis sesuai arahan Kejaksaan. Lalu mereka mengaku tim sukses dari pemerintahan sekarang. Tim sukses dari Pak Wali dan Wakil.  Jadi saya bilang itu urusan berikut. Yang penting sekarang ini kita jalan sesuai aturan. Jadi mereka bilang itu hari kakak bilang sabar. Kemudian saya katakan benar hari itu saya bilang sabar karena waktu itu saya belum lihat juknis. Dan sabar itu belum tentu iya karena juknis belum ada. Kemudian P, bilang bahwa kalau begitu kami ketemu dengan Pak Kasi Intel dan Kasi Pidsus di Kejari. Bahkan awalnya mereka bilang kami sudah omong dengan Ari Kanahau, Kasi Intel Kejari Kota Kupang”, terang Soleman Mone, Kepala Sekolah SMP Negeri 3 kota Kupang kepada awak media diruang kerjannya, Sabtu, (12/08).

Dilanjutkan, saat JK dan P, berkeinginan menemui Kasi Pidsus, Ari Kanahau, Kepsek mempersilahkan namun sebaliknya kepada JK dan P, Kepsek menjelaskan tidak pernah menyuruh untuk pergi ke sana. Bahkan, diberitahukan kalau Ari Kanahau, Kasi Pidsus Kejari Kota Kupang sudah dipindahtugaskan ke Kejati NTT.

“Mereka bilang ke saya mau ketemu Pak Ari Kanahau jadi saya bilang silahkan saja tapi saya tidak suruh. Karena kita tahu aturan. Saya sempat juga kasih tahu kalau Kasi Pidsus, Ari Kanahau sudah tidak tugas lagi di Kejaksaan Negeri Kota Kupang melainkan sudah di Kejaksaan tinggi NTT”, ungkap dia.

Menuturkan, setelah itu, pada Jumat, (06/08), sekitar pukul 12. 00 wita, ketika hendak memutar mobil untuk pulang ke rumah, kepsek didatangi oleh JK dan P.  Kemudian kepada Kepsek, JK dan P, memberitahukan, bahwa mereka sudah menemui Ari Kanahau namun mantan Kasi Pidsus itu mempertanyakan mengapa pihaknya ikut di bawa-bawa ke rana proyek DAK. Bahkan menurut JK dan P, Ari Kanahau, menjelaskan bahwa proyek DAK adalah merupakan kewenangan dari Kepala sekolah sesuai juknis. Kapasitas Kejaksaan hanya sebatas pengawasan.

“Peristiwa hari kemarin itu pas jam 12 siang, saya mau pulang rumah.Begitu saya putar mobil saya lihat JK dan P, lalu saya kasih turun kaca spion mobil. Kemudian mereka bilang kami sudah ketemu Kasi Pidsus. Sehingga saya tanya bagaimana sudah dan mereka katakan Kasi Pidsus bilang kenapa bawa-bawa kami. Kami hanya pengawas. Itu terserah Kepala Sekolah, sesuai juknis ya kepala sekolah”, jelas Mone.

Diakui, usai menjelaskan apa yang dikatakan Kasi Pidsus, dalam percakapan selanjutnya, Kepsek, terus didesak oleh JK dan P, agar pekerjaan DAK 2018 dikerjakan oleh mereka. Namun dengan santun Kepsek menyarankan agar sebaiknya bersama-sama ke Dinas Pendidikan untuk menarik atau merubah kembali SK yang sudah ada untuk digantikan dengan nama JK dan P, karena Kepsek tidak ingin bertanggungjawab atas segala resiko yang terjadi nanti.

Atas pernyataan tersebut, membuat JK balik bertanya mengapa berkata demikian, kemudian Kepsek menyampaikan bahwa apa yang baru dikatakan tersebut atas perintah juknis.

Penjelasan ini, kemudian mengundang JK naik pitam dengan menarik-narik pintu mobil dan Kepsek sambil bersuara kasar serta keras menyuruh Kepsek turun dari mobil karena ingin  membakar Kepsek bersama mobilnya.

“Setelah mereka sampaikan apa yang dikatakan Kasi Pidsus bahwa pekerjaan DAK adalah kewenangan Kepala sekolah, mereka terus memaksa saya untuk turuti keinginan mereka.  Maka saya bilang, sudah begini saja, kalau adi dong mau paksakan bahwa betul mau kerja, sekarang kita ke Dinas saja. Karena SK itu sudah masuk ke sana untuk rubah di sana. Nanti muat adi dong punya nama. Setelah itu saya mengundurkan diri karena saya tidak mau terlibat ini. Karena kata kata saya ini, Lius langsung naik darah dan emosi dan katakan kenapa omong begitu. Lalu saya bilang memang harus saya omong begitu. Mau bagaimana lagi, juknis mau tahu dan perintah seperti itu. Dia tarik dan hela pintu. P, melarang tidak usah. Tapi JK tolak-tolak P. P terhuyung. Namun JK terus melarang, jangan, jangan. Dia terus tarik-tarik pintu. Dia hela beta, dia bilang, “lu turun sini saya bakar lu dengan oto oto. Selain itu JK juga bilang lagi kalau ada pisau saya bunuh kau disini. Saya tidak jawab satu kata juga karena kalau saya jawab maka pasti akan terjadi sesuatu”, terang Mone.

Sementara, JK yang diwawancarai wartawan, dikediamanya, Sabtu, (11/09) di Airnona membatah melakukan pengancaman pembunuhan terhadap Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Kota Kupang, Drs Soleman Mone.

“Semua yang dikatakan Pak Sole itu tidak benar. Karena saya dengan Pak Sole itu sudah kenal lama. Kami pun sudah seperti kaka adik. Bahkan saya juga pernah di undang ke rumahnya di Jalan Sukun 1, untuk minum kopi bersama”, aku dia.

Diterangkan JK, dalam pendekatan untuk mendapatkan pekerjaan DAK Tahun 2018, dirinya tidak pernah mengaku-ngaku sebagai tim sukses dari Walikota dan Wakil Walikota Kupang.

“Beta ini orang kecil dan sudah tua bukan anak kecil jadi pergi lalu mengaku-mengaku sembarangan. Kalau pak Soleman bilang saya mengaku-ngaku sebagai tim sukses pasti ada bukti dan saksi”, ujarnya.

 

Diakhir kesempatannya, JK mengaku karena hubungan persaudaraan yang telah terjalin lama maka dirinya juga pernah membantu Kepsek Soleman Mone dan ada buktinya.

“Pak Mone pernah minta tolong saya bantu dia punya adik yang kerja sebagai Sekretaris Lurah Kolhua. Beta ada bukti sms dari pak Mone”, pungkas dia.*(jh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *