Pengelolaan Dana Bos SD Inpres Liliba Telah Sesuai Juknis, Juklak dan Hasil Bimtek

Laporan : Oscar Bessie dan Johanes Henuk

beritadelapanenam, -Kota Kupang, –Pengelolaan dana bos SD Inpres Liliba telah sesuai petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan serta sesuai petunjuk hasil bimbingan teknis. Keseluruhannya dapat dipertanggungjawabkan dengan bukti. Bahkan untuk anggaran Tahun 2017 sampai dengan triwulan pertama Tahun 2018, sudah di audit oleh BPK, (Badan Pemeriksa Keuangan), dan tidak ada permasalahan serta sudah dipertanggungjawabkan kepada tim managamen Kota Kupang. Hanya tersisa Tahun 2018 triwulan dua yang belum diaudit karena sementara berjalan.

“Kami kelolah dana bos sudah sesuai juknis, juklak dan petunjuk hasil bimtek. Bahkan dana bos Tahun 2017 sampai dengan semester pertama Tahun 2018, BPK sudh audit dan tidak ada masalah. Yang belum hanya semester kedua karena masih berjalan’, demikian diterangkan Kepala Sekolah Dasar Inpres Liliba, Rosina Menno, SPd, kepada awak media di kediamannya, Rabu, (25/07), Pukul 09. 00 wita.

Menjelaskan, juknis dan juklak tentang pengelolaan dana bos tahun lalu terdapat perbedaan sedikit dengan juknis Tahun 2018. Untuk Tahun 2017 lalu, sesuai petunjuk teknis, hanya diperuntukan anggaran delapan standar yang dijabarkan dalam sebelas komponen termasuk salah satunya kegiatan ekstra kurikuler.

Sementara, sesuai Juknis Tahun 2018, tentang kegiatan ekstra kurikuler, misalnya kegiatan pramuka dan drum band. Tapi untuk kegiatan lainnya, seperti kegiatan guru lebih banyak ke kegiatan remedial dan pengayaan. Karena jumlah guru yang lebih, maka pihaknya menempuh kebijakan untuk menambah kegiatan lain agar semuanya bisa ikut menerima meski pun nilainya pas pasan.

Namun disesalkan Menno, dari kebijakannya itu malah justru mengundang protes dari sebagian guru-guru.  Alasanya, e-transport ktg sekolah hanya dalam sekolah. Pada hal, sesuai hasil Bimtek, kegiatan yang sifatnya dalam sekolah tidak boleh dipertangggungjawabkan dalam e-transport melainkan konsumsi.

“Mereka protes karena misalnya e-transfer ktg sekolah itu hanya dalam sekolah jadi waktu kami bimtek katanya kalau kegiatan dalam sekolah sonde bunyi transport. Kalau bisa dia itu bunyi konsumsi”, jelasnya.

Rosina meambahkan, sesuai juknis, juklak 2018 dan hasil bimtek, biaya konsumsi untuk Kota sebesar 30 ribu rupiah. Lagian, Tahun 2017 lalu,  e-transpor kalistum memang sebanyak 100 ribu rupiah. Namun karena tidak terakomodir dalam Juknis 2018 maka kebijakan yang dilakukan adalah mengurangi 25 ribu rupiah menjadi 75 ribu rupiah.

“Kegiatan lain tidak ada dalam juknis 2018. Tapi karena kebijakan kepala sekolah misalnya, e-transport kalistum untuk guru kelas satu, dua dan tiga, yang melekat tugas guru membantu siswa membaca, menulis dan menghitung maka saya pakai teknik kalistum pada juknis 2018, supaya mereka juga dapat uang. Jadi tetap semua sama 74. 000 rupiah”, pungkas dia.

Sebelum menutup wawancaranya, Rosina mengaku,  menambahkan beberapa kegiatan dalam Juknis 2018, meski pun dalam Juknis Tahun 2017 lalu tidak diadakan, misalnya pelatihan Kempo, IT, honor penulisan rapor dan honorium panitia.

“Ada tambahan sekitar tiga atau empat, misalnya Kempo. Kempo tahun lalu tidak ada. Pelatihan IT tahun ju tidak ada. Honor penulisan rapor tahun lalu juga tidak ada tapi saya tambah ini tahun. Begitu juga honor-honor panitia. Itu tahun lalu tidak ada. Tahun ini saya tambahkan,” aku Mennoh. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *