Banyak WNI Ingin Bekerja ke Luar Negeri Karena Diimingi Gaji Besar

beritadelapanenam.com,-Kupang, Warga negara Indonesia, (WNI), berkeinginan bekerja ke luar negeri karena janji akan diberikan gaji besar.

“Banyak WNI Ingin bekerja di luar negeri seperti Malaysia karena di iming iming gaji besar,” demikian disampaikan Kementrian Luar Negeri, Kepala Subdit Kawasan I Direktorat Perlindungan WNI dan BHI, Dyah L Asmarani dalam Kampanye Penyadaran Publik “Perlindungan WNI di luar negeri” oleh Direktorat Perlindungan WNI dan BHI (Badan Hukum Indonesia) Kemenlu RI, bertempat di Hotel Sotis, Kamis/19. April 2018.

Kata Dyah L Asmarani, bagi setiap WNI yang hendak bepergian ke luar sebagai TKI perlu melalui prosedur yang resmi dan illegal sehingga tidak menimbulkan masalah.

“Mohon para Calon TKI untuk mengikuti prosedur resmi atau legal “ jelas Dyah

Dyah Asmarani menambahkan, pemerintah merasa perlu memberikan edukasi kepada setiap calon TKI agar dapat melalui prosedur resmi bahkan Dyah juga dalam kesempatannya memaparkan tentang bagaima caranya menghubungi Kemenlu, KBRI dan KJRI di Malaysia.

“Kita harus Ikut memberikan edukasi agar para calon TKI dapat mengikuti prosedur resmi sehingga dapat mengurus identitas diri dan miliki nomor Kemenlu agar jika temui masalah dapat menghubungi nomor hotline, 081290070027. KBRI Kualalumpur dengan nomor hotline +60321164016 dan KJRI Johor Baru nomor hotline +6072274188.

Dia mengaku saat ini Kemenlu RI telah menerbitkan aplikasi safe travel untuk warga Indonesia yang bepergian dan sedang berada di luar negeri dan kini sedang merilis portal peduli WNI dengan websitenya peduliwni.kemlu.go.id.

Sebab, diterangkan Asmarani bahwa dengan melakukan lapor diri, pihak perwakilan akan lebih optimal dalam memberikan pelayanan dan perlindungan kepada TKI di luar negeri. Bagi TKI yang pindah dan menetap ke luar negeri, cukup melakukan lapor diri melalui portal PEDULI WNI, dan melalui tanda bukti lapor diri itu akan langsung dikirimkan ke email TKI. Sementara, portal PEDULI WNI akan memfasilitasi lapor diri kedatangan, perpindahan, dan kepulangan, katanya.

Yusron B Ambary, Ketua Satgas Perlindungan KBRI Kualalumpur memaparkan, masalah komunikasi berupa bahasa asing menjadi masalah utama bagi TKI dalam menerima gaji. Sehingga gajinya didiamkan saja oleh TKI dan tidak mau melaporkan karena diperlakukan istimewa sebagai keluarga.

“Mereka tidak punya keberanian untuk bicara dan protes,“ terang Yusron

Sedangkan mengenai jenasah Milka Boimau yang diotopsi dan punya jahitan di sekujur tubuh, Yusron menegaskan, hukum Malaysia mempunyai kewenangan mutlak untuk melakukan otopsi jika ada meninggal tidak normal dan polisi Malaysia memiliki dikresi tanpa meminta ijin kepada pihak manapun. Terutama jenasah yang meninggal di luar rumah sakit harus diotopsi kecuali yang sudah memiliki rekam medis, “ tutur dia.

“Tolong untuk tidak membesar-besarkan isu tersebut,“ mohon Yusron

Sementara menanggapi isu pengiriman jenasah TKI yang tidak diurus dan diterlantarkan, KBRI sedapat mungkin mencari ahli waris kemudian membuat surat tidak mampu/miskin sehingga bisa diurus oleh KBRI.

Dia menyampaikan, biaya pengiriman TKI yang masih hidup jauh lebih murah karena biaya hanya 250 ringgit setara dengan uang Indonesia sebanyak 875 ribu rupiah. Ini sangat berbanding terbalik dengan biaya pengiriman jenasah TKI mencapai 16-20 juta, jelasnya.

Diakhir kesempatan dia mengaku migrasi menjadi hak warga negara dan tidak bisa dilakukan pencegahan karena keinginan dari warga NTT sangat kuat menjadi TKI. Meski pun rata rata pendidikan TKI asal NTT tidak memadai, Namun untuk mengantisipasinya, KBRI telah mengadakan mengadakan sekolah ladang bagi TKI Ilegal.

Konsulat Jendral (KJRI) Johor Baru, Argiadipa dikesempatan itu, menghimbau agar TKI yang beringinan pulang harus melalui jalur legal/resmi dan tidak melalui jalur tikus serta jangan percaya dengan para calo. Konjen RI telah menjamin bahwa yang pulang adalah warga negara Indonesia,

Begitu pula pemerintah Malaysia telah memberi keringanan biaya kepulangan bagi setiap TKI. meski Jalur resmi rumit tetapi lebih aman, akunya.

Argiadipa mengaku, masih banyak TJI illegal yang telah berkeluarga sangat sulit didekati oleh pihaknya karena melarikan diri.

“Masih Banyak TKI Ilegal yang telah berkeluarga dan memiliki anak, sehingga Saat Akan didekati oleh Pihak KJRI Malah melarikan diri “timpah dia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *