Kesbangpol NTT Sosialisasi Undang-Undang Nomer 7 Tahun 2017

beritadelapanenam.com-NTT, Bertempat di aula Hotel Romyta Kupang, Selasa, (10/4/2018), Kesbangpol Provinsi Nusa Tenggara Timur Sosialisasi Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum Tingkat Provinsi NTT.

Kegitan sosialisasi dengan tema “Secara Substansial, dan undang-undang nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu itu untuk mewujudkan demokrasi yang bermartabat dan berkualitas. pada penyelenggaraan pemilu legislatif dan pilpres secara serentak pada Tahun 2019..

Bertindak sebagai moderator adalah Kepala Badan Kesbangpol Provinsi NTT, Dra. Sisilia Sona, anggota Komisi I DPRD Provinsi NTT, Yoseph L. Ahas, S. Fil, SH, MH dan Komisioner KPU Provinsi NTT, Drs. Yosafat Koli.

Acara sosialisasi ini dihadiri oleh 80 orang peserta dari unsur partai politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, pimpinan organisasi kemasyarakatan, LSM, organisasi kepemudaan, mahasiswa dan pelajar (pemilih pemula) serta aparatur Pemerintah Kota Kupang.

Pelaksanaan sosialisasi itu untuk memberikan pencerahan dan membangun pemahaman kepada seluruh elemen masyarakat di daerah khususnya Kota Kupang, serta membangkitkan semangat nasionalisme dan mengajak masyarakat untuk memahami secara baik substansi Undang-Undang nomor 7 tahun 2017, tentang Pemilihan Umum. Sehingga dapat diimplementasikan pada penyelenggaraan pemilihan umum Tahun 2019 yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi politik dalam berbagai momentum demokrasi, baik pemilihan umum maupun pemilihan kepala daerah, terang Kepala Kesbangpol dikesempatannya dengan awak media.

Frans Lebu Raya, Gubernur NTT, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Walikota Kupang, Dr. Jefirstson R. Riwu Kore, MM, MH, mengatakan Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 merupakan penyederhanaan dan penggabungan dari UU Nomor 42 Tahun 2008, tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, UU Nomor 15 tahun 2011, tentang Penyelenggaraan Pemilu dan UU nomor 8 tahun 2012, tentang pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan demokratisasi yang timbul sebagai dampak dari reformasi dan Pembentukan UU Nomor 7 tahun 2017, yang pada prinsipnya bertujuan menata secara baik manajemen penyelenggaraan Pemilu mencakup penyelenggara, peserta, sistem pemilihan, pelanggaran, sengketa, penengakkan serta tindak pidana pemilu, katanya.

Disampaikan, sosialisasi peraturan perundang-undangan merupakan bagian dari upaya untuk memperbaiki kualitas pelaksanaan pemilu dan proses penguatan demokrasi serta upaya mewujudkan tata pemerintahan yang efektif dan efisien,
sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum Pasal 2, yang mengatakan bahwa Pemilu harus dilaksanakan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, terang Frans Lebu Raya.

Frans menambahkan, semua itu dapat tercapai jika seluruh komponen bangsa saling bahu membahu mendukung pelaksanaan Pemilu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, demi terciptanya sinergitas yang kuat dan berkesinambungan.

“Suksesnya Pemilu tidak hanya tergantung pada integritas penyelenggara dan pesertanya saja, namun juga dukungan seluruh pemangku kepentingan Pemilu. Pasal 434 UU nomor 7 tahun 2017 mengamanatkan bahwa Pemerintah Pusat dan Daerah wajib memberikan bantuan dan fasilitasi kelancaran penyelenggaraan Pemilu,”timpah Gubernur NTT.

Selanjutnya, dia menuturkan, pembentukan Desk Pemilu diperlukan sebagai pusat informasi perkembangan pemilu untuk menunjang proses penyelenggaraan pemilu serentak nanti. Selain itu, peran masyarakat juga merupakan bagian penting, pertimbangan rasional menjadi pemilih cerdas harus terus menerus disosialisasikan, selain tingkat partisipasi politik masyarakat yang akan menjadi perhatian khusus pada pemilu serentak Tahun 2019. Sehingga, pemilu dapat menghasilkan pemimpin dan wakil-wakil rakyat yang berintegritas dan berkualitas, memiliki legitimasi yang kuat serta amanah demi mewujudkan pemerintahan yang efektif dan efisien untuk kemakmuran rakyat.

Lebu Raya berharap agar sosialisasi ini dapat mewujudkan kesamaan persepsi serta sinergitas para pemangku kepentingan sehingga banyak masyarakat lebih antusias memilih secara sukarela tanpa adanya tekanan dari pihak manapun,” tambah dia.

Dia juga menyampaikan beberapa catatan penting tentang hasil pemilu legislatif Tahun 1999 dengan tingkat partisipasi politik masyarakat 92 %, Tahun 2004 turun menjadi 84 %, Tahun 2009, mengalami penurunan menjadi 71 %. Namun kemudian naik menjadi 74 % di Tahun 2014 dan diharapkan pada Tahun 2019 nanti tingkat partisipasi politik masyarakat dapat naik menjadi 75 %.

Lebu Raya menekankan Tahun 2018 merupakan tahun politik di Provinsi NTT karena selain ada 10 Kabupaten yang melaksanakan Pilkada Bupati dan Wakil Bupati, pada saat yang sama pula seluruh kabupaten dan kota melaksanakan Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur. Sehingga eskalasi politik di tengah masyarakat pasti akan meningkat, tidak menutup kemungkinan akan muncul gesekan sosial yang pada gilirannya mengarah kepada terciptanya konflik. Oleh karena itu diharapkan kepada seluruh komponen masyarakat di NTT untuk terus menjaga situasi dan kondisi di lingkungan masing-masing agar tetap kondusif, aman dan nyaman. Khususnya partai politik agar secara kontinyu memberikan penyuluhan/informasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai regulasi-regulasi di bidang politik serta bekerjasama dengan pemerintah daerah melakukan upaya-upaya guna meningkatkan partisipasi pemilih pada Pilkada Serentak Tahun 2018 dan Pemilu Tahun 2019 yang akan dating, pintah dia ****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *