Rakyat Cerdas, Memilih Karena Pengaruh Figur

beritadelapanenam.com – Beberapa contoh di pemilihan kepala daerah, katakanlah seperti di DKI Jakarta sewaktu Ahok mencalonkan diri dan akhirnya mendapat simpatik dari rakyat melalui jalur Teman Ahok itu menjadi satu alasan yang kuat mengapa situasi politik kali ini rakyat cenderung menentukan pilihannya bukan sekedar warna tertentu melainkan melihat ada tanda-tanda perubahan yang bakal terjadi pada sosok-sosok tertentu.

Kondisi seperti ini kemudian dalam banyak perhelatan politik, baik pada level pilgub atau legislative, banyak elit partai begitu hati-hati menentukan pilihan mereka pada sosok-sosok tertentu yang diyakini mampu meraup suara yang signifikan untuk memenangkan sebuah pertarungan politik. Hal yang sama juga bakal terjadi di Pemilihan Gubernur ini sampai pada pemilihan legislative dan Pilpres di 2019 nanti.

Yang paling menarik untuk dicermati adalah, ketika situasi begitu cepat berubah dari zona hijau ke zona merah, kemudian apakah kepentingan segelintir elit partai yang berambisi masih tetap mengutamakan ambisinya? Yang kemudian menggeser apa yang dikehendaki rakyat? Ataukah mencermati kondisi saat ini dan berbalik arah dalam sebuah kemenangan demokrasi yang berpihak kepada rakyat. Catatan inilah yang bakal dibperebatkan dalam menyongsong pemilu 2019.

Memang, untuk mengurai mata rantai sebuah demokrasi begitu sulitnya. Segalah perhitungan dipikirkan, segalah kepentingan dibicarakan, demikian itu pada kepentingan orang-orang yang ingin menduduki puncak kekuasaan.

Freni Lutruntuhluy

Setidaknya, kalau hari ini kita bicarakan tentang persiapan pemilihan legislative, adalah moment yang tepat untuk bagaimana kita terus memberi pemahaman politik yang baik dan bermartabat kepada rakyat untuk tetap berada pada pendiriannya yang tentunya rakyat berpihak kepada kepentingan orang-orang yang bakal melakukan perubahan itu. Artinya, jika hari ini masih tetap pada memilih karena melihat figure, maka itulah yang diharapkan, dan bukan asal partai mana atau gologan dan kelompok mana selama yang diperjuangkan adalah untuk kepentingan umum.

Pemilihan DPRD di Kabupaten Maluku Barat Daya di 2014, setidaknya menjadi pelajaran penting untuk bagaimana kita mampu melihat tanda-tanda perubahan itu sekaligus tetap semangat dalam bingkai permersatu orang beradat.

Alumni Kampus UKAW Kupang, Freni Lutruntuhluy, S.Pd, kepada media ini awal Maret lalu menjelaskan, untuk saat ini, masyarakat sudah lebih maju dalam pola pikirnya ketika bicara soal politik, dan situasi ini sangat berbeda misalkan pada pemilu 2014 lalu. Apapun alasannya ketika ada lawan politik yang mencoba mencari cela untuk menggagalkan sosok yang dikagumi rakyat, pada satu pertarungan, maka kemungkinan kecil rakyat terpengaruh dengan pola seperti itu.

“Selama rakyat mengerti dan “jatuh cinta” dengan satu figure, selama itu pula mereka tetap berada pada pendiriannya. Bagaimanapun strategi yang dilakukan, kecil kemungkinan rakyat mengikuti pengaruh itu”, begitu kata sosok yang pernah menjadi calon DPRD MBD di tahun 2014 lalu.

Ia menjelaskan, para politisi yang memahami arti demokrasi sejatinya harus dewasa membawa perubahan untuk kepentingan membangun daerah dengan cara menawarkan gagasan-gagasan yang bermanfaat dan jangan menyerang lawan politik tanpa sebab. Selain itu, kata Senior GMKI Kupang ini, rakyat tidak perlu terpengaruh dengan alasan warna-warni partai, melainkan tetapkah melihat fugur yang bisa membawa perubahan. [tim-red]

Anda yang ingin berkontribusi dan berbagi ide bersama? Klik disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *