Warga Metina Merasa Rugi Bila Jalan Reklamasi Pantai Putus

beritadelapanenam.com-Rote Ndao, Warga Kelurahan Metina Ba’a Rote Ndao mengaku merasa rugi apabila ruas jalan reklamasi sepanjang pesisir pantai Metina terancam putus. Pangkalnya, selama ini ruas jalan tersebut selain merupakan satu-satunya jalan alternastif, sejak pembangunannya, sangat membantu tidak terjadi abrasi sekaligus berfungsi sebagai tanggul atau penahan gelombang ketika laut pasang .

“Kami rasa rugi kalau jalan reklamasi ini putus karena selama ini jalan tersebut merupakan saru-satunya jalan alternatif. sejak bangun jalan ini warga di pantai rasa aman karena tidak ada abrasi lagi. Bahkan begitu air laut pasang, jalan ini bisa berfungsi tahan gelombang,” demikian disampaikan Ketua Rukun Tetangga RT.009, RW.003 Keluarahan Metina Kecamatan Lobalain, Salmun J. Klaas,  saat dikonfirmasi (07/03), Pukul 10:34 Wita di kediamannya.    

Menurut Salmun Klaas,  sebagai masyarakat  Metina sangat kecewa dengan pelaksana pembangunan jalan reklamasi Pantai Metina karena baru lima tahun jalan ini sudah ambruk. Pada hal pembangunannya menelan dana bermilyaran rupiah, ungkap dia dengan nada kesal.

Dijelaskan, pihaknya menduga kerusakan jalan reklamasi ini akibat pekerjaannya yang tidak sesuai dengan perencanaan.

“Rusaknya jalan reklamasi  ini kemungkinan dikerjakan asal jadi tidak sesuai perencanaan,”aku dia.

Salmun Klaas mengungkapkan, sebagai Ketua RT pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kelurahan guna menyampaikan hal ini kepada Pemerintah daerah untuk segera menutup sementara ruas jalan tersebut guna menghindari kecelakaan bagi masyarakat pengendara kendaraan, terangnya.

Diharapkan, pemerintah daerah tidak berdiam diri melainkan segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar memintai pihak pelaksana untuk bertangung jawab atas pelaksanaan pembangunan yang baru berumur kima tahun, tutur Klaas.

Lurah Metina, Elsa Pello, di ruang kerjannya,  Rabu, (0 7/03),  pukul 09:08 wita mengaku mendukung apa yang menjadi keluhan dari warga RT 009 RW 003 Kelurahan Metina. Bahkan sebagai tindaklanjutnya, dirinya sudah melaporkan secara tertulis kepada pemerintah daerah namun sejauh ini belum mendapat respon positif, tuturnya.

Dia menyesalkan pembangunan jalan yang menghabiskan anggaran negara bermilyaran rupiah tetapi asas manfaatnya hanya sementara dinikmati oleh masyarakat.

Salmun, mengkuatirkan pekerjaan pembangunanya tidak cepat ditangani dan masih bertetapan dengan musim penghujan dapat mendatangkan bencana baru bagi masyarakat pesisir setempat, aku dia.

Dikesempatan itu, Pello mengingatkan pihak pelaksana harusnya  memperhitungan pasang surut air laut pada saat musim penghujan dan kemarau. Begitu pula penahan abrasi pantai jangan dibiarkan terbuka karena bersentuhan langsung dengan pemukiman warga. Soal mutu dan kualitas pekerjaan tidak diragukan karena anggaran  bersumber dari APBN.  Tapi tentu setiap klasifikasi teknis bangunan sudah ada perencanaan pelaksanaan namun dalam pekerjaan jalan reklamasi ini dirinya menilai pihak kontraktor tidak matang dan cermat dalam kajian pelaksanaan untuk memperhintungan debit air laut. Tidak cuma itu, pelaksana harus bertangung jawab atas kerusakan  berat  sehingga  tidak ada asas manfaat bagi masyarakat. Sedangkan setiap pekerjaan pembangunan yang didanai APBN biasanya daya tahannya di atas sepuluh tahun bukan lima tahun, pungkas dia. (Riyan Tulle/Alfred Kedoh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *